BAB VII
PENGORGANISASIAN DAN
REVISI PESAN PESAN BISNIS
7.1 PENGORGANISASIAN MELALUI OUTLINE
Pada dasarnya, untuk mencapai pengorganisasian yang
baik diperlukan dua proses tahapan, yaitu pendefinisian dan penggolongan
ide-ide; dan penetapan urutan ide-ide dengan perencanaan organisasional yang
terpilih secara hati-hati.
- Mendefinisikan
dan mengelompokkan ide-ide
Memutuskan apa yang harus dikatakan adalah masalah
mendasar yang harus dipecahkan oleh setiap komunikator. Jika materi yang
disajikan lemah, apalagi tidak memiliki suatu gaya yang menarik, fakta yang ada
dapat menjadi kabur. Cepat atau lambat, audience akan menyimpulkan bahwa yang
disampaikan benar-benar tidak bernilai sedikitpun. Semua kegiatan komunikasi,
baik menelpon, membuat 3 paragraf surat, atau menulis laporan 200 halaman,
harus dimulai dengan mendefinisikan isi materinya. Semakin panjang dan kompleks
materi yang akan disampaikan, semakin penting tahap pertama ini.
Apabila pesan yang disusun panjang dan kompleks,
pembuatan outline sangat diperlukan dan menjadi penting artinya. Mengapa
demikian? Sebuat outline akan membantu memvisualisasikan hubungan antara bagian
yang satu dengan bagian yang lain. Disamping itu, outline juga akan memberikan
arahan sehinga komunikator dapat menyampaikan ide-ide dengan cara yang
sistematik, efisien dan efektif. Melalui perencanaan yang baik, outline akan
membantu komunikator mengekspresikan transisi antara ide-ide, sehingga audience
akan mengerti dan memehami pola piker komunikator. Susunan suatu outline secara
garis besar dapat digolongkan ke dalam tiga golongan, yaitu :
- Mulailah
dengan ide pokok
Ide pokok (main idea) akan membantu menetapkan tujuan
dan strategi umum dari suatu pesan. Idde pokok tersebut dapat dirangkum ke
dalam dua hal yaitu: (a) hal-hal apa yang diinginkan agar dilakukan atau
dipikirkan oleh audience, (b) alasan yang mendasar, mengapa mereka harus
melakukan atau memikirkannya. Ide pokok merupakan titik awal untuk membuat
outline.
- Nyatakan
poin-poin pendukung yang penting
Setelah menetapkan ide pokok pesan yang akan
disampaikan, tahap kedua adalah menyusun poin-poin penting lainnya, sebagai
pendukung ide pokok.
- Ilustrasi
dengan bukti-bukti
Tahapan ketiga dalam menyusun outline adalah
memberikan ilustrasi dengan mengemukakan bukti yang berhasil dikumpulkan.
Semakin banyak bukti yang dapat disajikan, semakin baik outline yang dibuat.
- Menentukan
urutan dengan rencana organisional
Setelah selesai mendefinisikan dan menggolongkan
ide-ide, langkah selanjutnya adalah menentukan urutan penyampaian materi. Untuk
menentukan urutan penyampaian materi, ada dua pendekatan penting yang dapat
digunakan, Yaitu:
- Pendekatan
langsung
Pendekatan langsung sering disebut juga dengan istilah
pendekatan deduktif, di mana ide pokok muncul paling awal kemudian di ikuti
bukti pendukungnya.
- Pendekatan
tidak langsung
Sering disebut juga dengan istilah pendekatan
induktif, di mana bukti-bukti muncul terlebih dahulu kemudian diikuti dengan
ide pokoknya.
Kedua pendekatan dasar tersebut dapat diterapkan baik
untuk pesan singkat (memo dan surat) maupun pesan formal/panjang (laporan,
usulan, dan presentasi). Untuk menentukan pendekatan yang akan digunakan,
reaksi audience terhadap maksud/tujuan pesan dan tipe/jenis pesan yang akan
disampaikan harus dianalisis terlebih dahulu.
Secara umum, pendekatan langsung cocok digunakan
manakala para audience mempunyai hasrat, tertarik, senang, atau bersikap netral
terhadap pesan yang akan disampaikan. Tetapi jika mereka menolak, yang anda
sampaikan, lebih baik digunakan pendekatan tak langsung. Kesimpulanya, jika
reaksi para audience positif, gunakanlah pendekatan langsung; dan sebaliknya,
jika reaksi audience negatif, gunakanlah pendekatan tak langsung
Setelah menganalisis kemungkinan reaksi para audiens
dan memilih suatu pendekatan umum, langkah berikutnya adalah menentukan rencana
organisasional yang paling cocok diantara bebagai model berikut :
- Direct
request: penyampaian yang langsung pada poin yang dituju (to the point),
cocok menggunakan pendekatan pendekatan langsung.
- Pesan-pesan
rutin, good news, atau goodwill: cocok dengan menggunakan pendekatan langsung.
- Pesan-pesan
bad news: pendekatan yang dapat diterapkan adalah pendekatan tak langsung.
- Pesan-pesan
persuasive: pendekatannya adalah dengan cara tak langsung.
7.2 PEMILIHAN KATA
Pemilihan kata yang tepat adalah penggunaan kata-kata
tertentu untuk mencurahkan ide atau pikiran ke dalam sebuah kalimat. Agar pesan
yang terkandung dalam kalimat yang disampaikan kepada orang lain dengan mudah
dapat dimengerti, maka harus menggunakan kata-kata dengan baik.
- Pilihlah
kata yang sudah familiar/dikenal
Dalam menyampaikan pesan-pesan bisnis, gunakanlah
kata-kata yang sudah dikenal, umum dan lazim sehingga mudah dipahami oleh
audiens. Jangan menggunakan kata-kata atau istilah yang nampaknya mentereng,
bombastis, tetapi justru hanya membuat audiens bingung.
- Pilihlah
kata-kata yang singkat
Anda perlu juga memilih kata-kata yang singkat dalam
penyampaian pesan-pesan bisnis. Kata-kata yang singkat, selain efisisen, juga
mudah dipahami oleh audiens. Meskipun pemilihan kata yang disingkat diperlukan,
harus tetap diperhatikan berbagai kaidah penulisan bahasa yang baik dan benar.
- Hindari
kata-kata yang bermakna ganda
Kata-kata yang memiliki berbagai pengertian harus
dihindari dalam penyampaian pesan-pesan bisnis. Penggunaan kata-kata tersebut
akan mengakibatkan terjadinya penafsiran yang bermacam-macam. Akibat
selanjutnya adalah kemungkinan tidak tercapainya maksud penyampaian pesan-pesan
bisnis.
7.3 MEMBUAT KALIMAT EFEKTIF
Penyusunan kata yang efektif mempermudah pembaca
mengerti isi pesan. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk menyusun
kalimat, yaitu kesatuan pikiran, kesatuan susunan dan kelogisan.
Tiga Jenis Kalimat
- Kalimat
Sederhana: Suatu kalimat sederhana hanya memiliki sebuah
subjek dan predikat. Namun tidak menutup kemungkinan suatu kalimat
dilengkapi dengan objek baik langsung maupun tidak langsung
- Kalimat
Majemuk: Kalimat majemuk berisi dua atau lebih klausa
independen dan tidak mempunyai klausa dependen. Klausa independen
merupakan klausa yang dapat berdiri sendiri atau mempunyai
pengertian yang utuh, sedangkan klausa dependen adalah klausa yang tidak
dapat berdiri sendiri sehingga tidak memiliki klausa yang utuh.
- Kalimat
Kompleks: Kalimat kompleks berisi sebuah klausa independen
dan satu atau lebih klausa dependen sebagian anak kalimat.
Sumber :
- Djoko
Purwanto, 2003, Komunikasi Bisnis, Penerbit Erlangga, Jakarta.
- Curtis,
Dan B;Floyd, James J;Winsor, Jerry L, 1999, Komunikasi Bisnis dan
Profesional, Penerbit Remaja Rosda Karya, Bandung.
- Guffey,Mary
Ellen; Rhodes, Kathleen; Rogin, Patricia,2006, Komunikasi Bisnis :
Proses dan Produk Buku 1 dan 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar